mereka mati karna di miskinkan

Ini kabar berita asli yang di tebitkan oleh kompas. Saat aq membacanya di dalam hatiku menangis… Meskipun aq bukan siapa siapa tapi hatiku merasa tersentuh oleh kejadian yang sangat tragis ini, dan ini terjadi di daerahku sendiri. Tempat aku di besarkan..

Dalam hatiku bertanya “masie sedemikian miskin kah daerahku.?????” hhmmmm….

Enam puluh lima tahun “merdeka”
tanah air bagi segelintir orang memang
menanak nasi dan mendulang mutiara.
Namun bagi kebanyakan orang, enam
puluh lima tahun “merdeka” benar-
benar menanak batu dan menyerahkan
harga diri.

Namanya Jamhamid, dia bukan siapa-
siapa, dia hanya rakyat kecil, keluarga
miskin, tepatnya, warga desa Jebol,
Kecamatan Mayong, Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah. Usia 45 tahun.
Istrinya bernama Siti Sunayah, umur
41 tahun. Rumahnya, lebih tepat kalau
disebut gubuk permanen, yang bisa
diceritakan tentang isi rumahnya
adalah beberapa piring plastik,
beberapa gelas plastik, tak ada yang
layak diceritakan. Mereka pasangan
suami istri yang dimelaratkan oleh
sistem kekuasaan.

Jamhamid kerap melamun baik ketika
duduk sendiri maupun saat menemui
tamu-tamu yang melayat. Setiap kali
ditanya tentang musibah yang menimpa
keluarganya, dia menerangkan dengan
terpatah-patah, ”Saya sudah
membanting tulang menghidupi anak-
anak saya dengan menjadi penjahit di
Semarang, Jawa Tengah. Tetapi,
Tuhan ternyata berkata lain. ”

Berbeda dengan Sunayah. Kemarin,
dia terus mengurung diri di dalam
kamar, rumah bertembok permanen
miliknya. Dia tidak mampu berkata
banyak. Hanya air mata yang terus
mengalir.

Pasangan suami istri itu baru saja
kehilangan enam orang anaknya
sekaligus. Mereka meninggal dunia
akibat makan tiwul. Sebuah tragedi
kemiskinan di negeri Jamrud
Khatulistiwa.

Entah, apakah ini Indonesia yang kita
kenal? Ah, bukan! Ini bukan Indonesia!

Ya, kemiskinan untuk sebagian pejabat
dan partai adalah komoditas untuk
memperteguh status sosial. Karenanya
kemiskinan harus dilestarikan dan
diupayakan kelanggengannya. Dan
orang miskin adalah tumbal bagi
kepentingan mereka, karena orang
miskin bukan apa-apa, ia adalah angka
nol.

Konon, monument-monumet besar dan
penting dalam sejarah peradaban
manusia, dibangun dengan darah dan
air mata orang miskin. Piramid-
piramid Mesir dibangun dengan ribuan
orang miskin. Juga rakyat kecil dan
miskin yang mati kedinginan ketika
membangun Tembok Besar Cina
dicampurkan dengan adukan dan
dimasukkan menjadi bangunan tembok.
Semua gara-gara miskin.

Ini semua terjadi karena orang miskin
memang bukan apa-apa, ia adalah
angka nol.

Sebab beberapa hari lalu, dari media
dikabarkan kalau di Istana Bogor,
Presiden SBY merilis laporan tentang
turunnya angka-angka kemiskinan.
Sambil menunjukkan penurunan
statistik kemiskinan, seorang pejabat
pemerintah bilang, kemiskikinan turun
1,5 juta. Orang miskin dari 32,5 juta,

turun menjadi 31 juta jiwa.
Sebab hari-hari ini, di Jakarta, dari
media dilaporkan kalau elit-elit partai
dan penguasa tengah berpesta pora
unjuk kekuatan dan melangengkan
kekuasaan “monarki” dengan
berbinar-binar. Sebuah arogansi yang
terlalu ironis dengan nasib anak-anak
Jamhamid yang mati karena
dimiskinkan. Percayalah mereka bukan
Gayus yang layak dimiskinkan.

Maaf temen2 kali ini tidak ada screnshot.x karna saya tidak ada di TKP..

posted oleh aries boy

4 Comments

silahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s