Kisah kasih seorang ibu pada anaknya

crying-mother2.jpg

ibu2.jpg

Ibuku hanya memiliki satu kaki
dan satu mata, Aku membencinya
sungguh memalukan. Ia menjadi
juru masak di rumah tetanggaku
dan berjualan kue di sekolahku,
untuk membiayai keluarga. Suatu
hari ketika aku masih SD, ibuku
datang. Aku sangat malu. Mengapa
ia lakukan ini?

Aku memandangnya dengan penuh
kebencian dan melarikan diri. Ibuku
terdiam hanya memandang. Keesokan harinya di sekolah. “Ibumu hanya punya satu kaki dan satu mata. ?!?!” Iieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap
ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu,
“Bu, Mengapa Ibu tidak punya satu kaki dan satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan lebih baik Ibu mati saja !!!” Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya
sangat terluka karenaku.

Malam itu. Aku terbangun dan pergi
ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Ia memandangku sejenak, dan kemudian berlalu dengan kaki pincang. Akibat perkataanku tadi,
hatinya tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu kaki dan matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang
yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun, ibuku terus bekerja membelikanku baju, buku sekolah, membayar uang sekolah. Dan akhirnya aku lulus dan mendapat
beasiswa masuk perguruan tinggi Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang
sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus,

ketika ibuku datang ke rumahku. Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Dengan terlihat kepanasan di wajahnya, berkeringat dan
terengah-engah dengan kaki dan mata satunya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat bentuk ibuku yang gak karu-karuan. Kataku, “Siapa
kamu?! Aku tak kenal dirimu!!”Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!! Ibuku hanya
menjawab perlahan, “Oh, maaf Sepertinya saya salah alamat,”dan
ia pun berlalu dengan tongkat kakinya. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Akutak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan
reuni sekolah tiba di rumahku di
Jakarta. Aku berbohong pada
istriku bahwa aku ada urusan
kantor. Akupun pergi ke sana.
Setelah reuni, aku mampir ke gubuk
tua, yang dulu aku sebut rumah..
Hanya ingin tahu saja.
Di sana, kutemukan ibuku
tergeletak dilantai yang dingin.
Namun aku tak meneteskan air
mata sedikit pun. Ada selembar
kertas di tangannya. Sepucuk surat
untukku. ”Anakku..Kurasa hidupku
sudah cukup panjang.. Dan aku
tidak akan pergi ke Jakarta lagi.
Namun apakah berlebihan jika aku
ingin kau menjengukku sekali ?
Aku sangat merindukanmu. Dan aku
sangat gembira ketika tahu kau
akan datang ke reuni itu. Tapi
kuputuskan aku tidak pergi ke
sekolah. Demi kau. Dan aku minta
maaf karena hanya membuatmu
malu dengan keadaan cacat fisiku.
taukah kamu anakku, ketika kau masih dalam
kandungan ibu mengalami
kecelakaan , ketika ibu masih hamil
seseorang telah dengan sengaja
menabrak kaki ibu hingga patah.
Tetapi untung kandungan ibu
selamat, akhirnya ibu melahirkan
bayi lucu yaitu kamu, tetapi sayang
tuhan hanya memberikan mu satu
mata .Sebagai seorang ibu, aku tak
tahan melihatmu tumbuh hanya
dengan mata satu. Maka aku
berikan mata satuku kepadamu,.
Aku sangat bangga padamu yang
telah melihat seluruh dunia
untukku, ditempatku, dengan mata
itu. Aku tak pernah marah atas
semua kelakuanmu. Ketika kau
marah padaku.. Aku hanya
membatin sendiri, “Itu karena ia
mencintaiku” Anakku! Oh,
anakku!”
Akupun menangis sekeras dan
memeluk ibuku erat-erat meminta
maaf, namun sayang ternyata Ibuku
sudah beberapa jam lalu meninggal
dalam kesendiriannya.
Bersyukurlah atas apa yang Anda
miliki sekarang dibandingkan apa
yang tidak dimiliki oleh jutaan
orang lain! Luangkan waktu untuk
mendoakan ibu Anda……

2 Comments

silahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s